Media Massa
Untuk memahami media massa sebagai agent of change, harus di mulai dengan mempelajari apa itu media massa. media massa merupakan sarana menyebarkan informasi kepada masyarakat, menurut Bungin (2006:72) media massa diartikan sebagai media komunikasi dan informasi yang melakukan penyebaran informasi secara masal dan dapat diakses oleh masyarakat banyak, ditinjau dari segi makna, media massa merupakan alat atau sarana untuk menyebarluaskan isi berita, opini, komentar, hiburan, dan lain sebagainya. Menurut Cangara, media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak, sedangkan pengertian media massa sendiri alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak dengan menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar, film, radio dan televisi (Canggara, 2010:123,126).
Media Massa Sebagai Agent of Change
.jpg)
Media Massa memiliki posisi yang penting dalam kehidupan
masyarakat, sehingga media massa ditempatkan sebagai
komunikasi massa yang berperan sebagai komunikator serta
agen of change, menjadi pelopor perubahan dalam lingkungan
publik yang dapat mempengaruhi khalayak melalui pesan
berupa informasi, hiburan, pendidikan maupun pesan-pesan
lainnya dan dapat dijangkau masyarakat secara luas. Sebagai
bentuk dari pentingnya media dapat dilihat dari pengaruh yang
dirasakan oleh khalayak, mulai dari aspek kognitif, afektif,
hingga konatif dari media massa dan dampak positif negatif
dari media sosial.Walaupun posisi dan peran media sangat
penting akan tetapi masyarakat juga harus berhati-hati dengan
media mengingat bahwa sifat media yang begitu fleksibel. Nilai
negatif atas peranan media di Indonesia bisa saja terjadi baik
dari media massa ataupun media sosial, sehingga perlu
adanya perhatian dari setiap pihak, baik dari pengelola media
hingga masyarakat itu sendiri.
Peran Media dalam Kehidupan Manusia
Media massa merupakan sarana komunikasi massa yang berperan sebagai
komunikator serta agen of change yakni pelopor perubahan dalam lingkungan
publik yang dapat mempengaruhi khalayak melalui pesan berupa informasi,
hiburan, pendidikan maupun pesan-pesan lainnya dan dapat dijangkau masyarakat
secara luas. Dewasa ini, di era globalisasi yang semakin cepat, peran media massa
dalam kehidupan manusia sehari-hari tidak dapat dihindari lagi. Mengingat bahwa
posisi media massa dalam kehidupan masyarakat begitu penting maka kesuksesan
media massa dalam menjalankan perannya sebagai komunikator dapat dilihat dari
semakin berkembangnya media massa, bertahannya media massa hingga saat ini,
dan semakin bertambahnya stasiun, perusahaan hingga website dan program yang
disuguhkan oleh pengelola media cetak dan media elektronik. Media massa tidak
akan bertahan hingga saat ini apabila tidak ada masyarakat yang menggunakan
atau memanfaatkannya dalam kehidupan, karena bagaimanapun media massa
tergantung pada banyaknya pemirsa.
Apabila dilihat secara menyeluruh, menurut McQuail terdapat 6 (enam)
perspektif dalam melihat peran media massa dalam kehidupan sosial terutama
dalam masyarakat modern, antara lain :
1. Melihat media massa sebagai window on event and experience. Media
dipandang sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi di luar sana, atau media merupakan sarana informasi
untuk mengetahui berbagai peristiwa.
2. Media sering dianggap sebagai a mirror of event in socity and the world,
implying a faithful reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada di
masyarakat dan dunia, yang merefleksikan apa adanya, karenanya para
pengelola media sering merasa tidak bersalah jika media penuh dengan
kekerasan, konflik, pornografi dan berbagai keburukan lain.
3. Memandang media massa sebagai filter, atau gatekeeper yang menyeleksi
berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Televisi senantiasa memilih
isu, informasi atau bentuk content yang lain berdasarkan standar para
pengelolanya.
4. Media massa sering dipandang sebagai guide, penunjuk jalan atau
interpreter, yang menerjemahkan dan menunjukkan arah atas berbagai
ketidakpastian, atau alternatif yang beragam.
5. Melihat media massa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai
informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkinkan
tejadinya tanggapan dan umpan balik.
6. Media massa sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekedar tempat
berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner komunikasi yang
memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif.
6. Media massa sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekedar tempat
berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner komunikasi yang
memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif.
Contoh - contoh yang berkaitan dengan media massa sebagai agent of change
1. Penelitian tentang Media Massa Sebagai Medium Perubahan dalam Era Reformasi ini berangkat dari
perubahan-perubahan yang terjadi di era reformasi antara lain perubahan di bidang media televisi.
Perubahan ini diaplikasikan dalam kebebasan media untuk menyampaikan informasi, antara lain, kebebasan
untuk memberi informasi tentang pengusutan harta mantan kekayaan presiden Suharto, penculikan para
aktivis dan penembakan mahasiswa. Dalam era orde baru, penyampaian informasi seperti itu, mustahil
dilakukan karena pemerintah dapat menentukan isi media.
Kerangka pemikiran yang dipakai adalah perspektif struktural fungsional. Perspektif ini menyajikan
bagaimana suatu sistem organisasi bekerja untuk mempertahankan dirinya.
Literatur yang mendukung kerangka pemikiran ini adalah pemikiran MCQuail mengenai Teori atau Sistem
Media yang menjelaskan berbagai sistem media yang berlaku di berbagai negara sesuai dengan kondisi
sosial negara yang bersangkutan. Selain pemikiran tentang teori atau sistem media digunakan juga
pemikiran McQuail tentang Kebebasan Media. Kebebasan media akan terwujud, antara lain jika tidak ada
sensor, izin atau pengawasan oleh pemerintah, bebas untuk memperoleh informasi dan adanya tanggung
jawab dan hak-hak yang sama dalam masyarakat serta independensi editorial.
2. Informasi yang dimuat media Time mengenai foto penyembelihan
seorang preman di kampung Ketapang, Jakarta, oleh pemuda
kampung, adalah titik awal terjadinya konflik Maluku yang tak
berkesudahan. Ini adalah peristiwa kerusuhan antara pemuda kampung
dan para preman penjaga kompleks hiburan malam. Foto sadistis ini
dimuat Time, Desember 1998, secara vulgar. Tak ketinggalan,
penyebutan korban sebagai Ambon Kristen dan pelaku pembunuhan
yang Muslim. Dua bulan kemudian, pada awal Februari 1999, umat
Muslim yang sedang Sholat ld di Ambon dibantai oleh umat Kristen.
Perjalanan kekerasan ini dimulai dari Jakarta (1998), Ambon (1999-
2000), Maluku Utara dan Poso (2000-2001), belum berakhir hingga
sekarang. Bagaimana peran Time dalam hal ini? Belum terbukti
kaitannya. Seandainya majalah Time ini dibaca oleh orang-orang
Ambon di Belanda dan tempat-tempat lain di seluruh dunia ..." Tahun
2000-an, muncul dalam pemberitaan, ada bantuan persenjataan
melalui kapal asing yang masuk perairan Maluku kepada umat
Kristen, dan gencarnya dukungan memerdekakan Maluku Selatan.
3. Media mempromosikan demokrasi dan anti diskriminasi.
Peristiwa Tianamen di China tak akan diketahui dunia tanpa kehadiran
kamera televisi. Pemberontakan mahasiswa dan kaum intelektual China
ini tersebar di seluruh dunia, ditonton juga oleh rakyat China melalui
layar televisi, sehingga menumbuhkan gerakan keterbukaan dan iklim
demokrasi hingga sekarang. Demikian juga praktik Apartheid
(diskriminasi rasial) di Afrika Selatan mungkin tak akan berakhir tanpa
desakan internasional, yang memperoleh informasinya dari media massa.
referensi :
Komentar
Posting Komentar